Jumat, 12 Februari 2010

# 4

Akhirnya.....
Berdiri juga outlet laundry yang ke 4.

Bireuen.

Kalu kamu liat peta Indonesia, coba lirik provinsi paling kiri kamu. Correct! Aceh! Coba amati lekat-lekat, disebelah utara provinsi ini ada kota Bireuen. Kota ini menarik. Kalau mau ke Takengon, mesti nglewatin Bireuen.

Bireun juga kampung halamanku. Mmmm.... Abusyik, Nyaksyik, Nyakwa, Ayahwa, Bunda, Ce'reh, Ce'riza, Miwa, dsb, berkumpul dikota ini. Jadi, aku gak repot cari akomodasi selama seminggu di Bireuen. Semua sodara bersedia memberi pelayanan bintang 5 untuk anak, adik, cucu kesayangannya ini. Ya iyalah, secara aku gak pernah2nya pulang kampung, giliran tinggal di Bireuen seminggu, tujuannya bukan untuk family visiting, tapi utk develop my bussiness.

Biasanya setiap ke Bireuen, waktu kecil2 nih, aku tinggal di rumah Nyaksyik (nenek) di Blang Bladeh (5 km ke arah Banda Aceh dr pusat kota). Kalo pagi2 aku ama sepupu dan beberapa anak kecil setempat mesti ke laut Blang Dalam, jalan kaki melewati irigasi, sawah, meunasah, dan kuburan. Indahnya masa kanak2....

20 tahun kemudian, which is in present time, setiap ke Bireun aku selalu numpang di tempat sepupu dr pihak ayah, kak mila, yg berkampung di Cureh. Ya... alasan pertama, karena rumah Nyaksyik sudah tinggal kenangan, alasan kedua, karena kak Mila emang udah nyediain tempat untuk kami, dan ketiga, biar ayah senang ngeliat anak2nya bisa dekat dgn keluarga Cureh. Intinya: kami pengen pulang kampung, gak punya pilihan lain utk nginap selain cureh. full stop!

Tapi kali ini, aku nginap di tempat Syikni, sepupunya Nyaksyik. Kami gak bgt dekat dengan syikni, yg dulu adalah Nany-nya mama. Alasannya, mmm... karena emang lebih hommy di Blang Bladeh.

Syikni punya warung yg emang well known lah untuk kawasan Bireun, namanya Sinar Jaya. Selama beraktivitas di Bireuen, aku gak masalah dgn makanan. Pergi naik becak atau labi-labi (angkot), pulang naik becak atu nebeng sodara.

Back to my 4th Laundry.

Di Bireuen sendiri baru ada 1 laundry. Melia. Tapi menurut masyarakat Bireuen, pelayanan Melia sangat mengecewakan. Masih ada sisa sabun, gak rapi, gak bersih, dsb. Jadi dgn berdirinya Laundry kiloan pertama di Bireun ini, diharapkan kekecewaan masyarakat bisa sedikit terobati (mudah2an).

Tantangannya, disini expektasi pelanggannya melebihi pelayanan Melia. Terutama untuk urusan wangi. Ya... you know lah, kalo laundry kiloan kan serba murah, pewanginya ya jelas beda dgn pewangi laundry kelas atas. klo mau mahal bisa kita atur, dgn pertimbangan operational cost-nya memadai gak?

Belo lagi urusan plastik yg kudu bersablon, setiap baju harus dihanger....

Well, setiap bisnis ada tantangannya. aku berharap investor lebih memaknai bisnis ini. Bisa belajar dari kasus yg mereka hadi sehari-hari. Aku kan gak mungkin mendampingi mereka terus selama sebulan, bisa2 suamiku cari bini baru... hua :O

Selamat menjalankan usaha laundry, mudah2an setiap kendala bisa diatasi. Pelanggan tambah banyak, duit masuk masuk banyak, dan... jangan lupa setoran 5% tiap bulannya. Hehe....